Kamis, 26 Agustus 2010

Kisah Alquran > Tentara Gajah

Setelah Abrahah membangun sebuah gereja bernama Qalis yang belum ada tandingannya pada zaman itu di San'a, dia menulis surat kepada Raja Najasyi (Negus Negusi) berisi: "Sesungguhnya aku telah membangun sebuah gereja untukmu yang belum pernah dibangun semegah itu untuk raja sebelum kamu. Aku belum puas sebelum aku berhasil mengalihkan tujuan haji orang Arab." Ketika surat Abrahah buat Raja Najasyi tersebut menjadi pembicaraan orang-orang Arab, maka salah seorang dari suku Kinanah marah dan pergi menuju gereja Qalis, kemudian buang air besar di dalam gereja tersebut tanpa ada yang mengetahui kemudian kembali ke rumahnya. Kejadian itu didengar oleh Abrahah, iapun marah dan bersumpah akan menyerang Baitullah sampai hancur. Beliau memerintahkan tentara Abessinia untuk bersiap-siap. Dia berangkat menunggang gajah. Ketika orang-orang Arab mendengaar keinginan Abrahah untuk menghancurkan Kakbah, mereka merasa takut. Abrahah mengutus seorang laki-laki dari Abessinia bernama Aswad bin Mafsud beserta pasukan berkuda. Ketika sampai di Mekah ia meminta tebusan harta dari suku Quraisy dan suku lainnya. Abdul Mutalib bin Hasyim kehilangan 200 unta. Saat itu dia adalah pemuka Quraisy dan tokohnya. Suku Quraisy, suku Kinanah, suku Huzail dan suku-suku yang bertetangga dengan tanah Haram mengetahui bahwa mereka harus melawannya. Kemudian mereka menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi pasukan tersebut. Mereka menyerahkan urusan tersebut.
Abrahah juga mengutus Hanathah Humairi ke Mekah. Ia diperintahkan untuk mencari siapa pemuka dan tokoh penduduk tanah Haram, lalu katakan: Sesungguhnya raja berkata, "Sesungguhnya aku tidak datang untuk memerangi kalian, tetapi aku datang untuk menghancurkan Baitullah. Jika kalian tidak menghalangi kami, maka kami tidak akan memerangi kalian, jika dia tidak ingin berperang denganku, maka ajaklah dia ke sini." Ketika Hanatah masuk Mekah untuk menjumpai tokoh Quraisy bernama Abdul Mutalib bin Hasyim, dia berkata kepada Abdul Mutalib seperti yang diperintahkan Abrahah.
Abdul Mutalib bin Hasyim berkata, "Demi Allah, kami tidak akan melawannya dan kami tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankan Rumah Allah dan Rumah Khalilullah (Nabi Ibrahim as.). Jika Allah ingin mencegahnya, maka rumah ini adalah rumah-Nya dan jika Dia membiarkannya, maka masalah ini adalah urusan-Nya dan urusan Abrahah. Demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankannya." Kemudian Hanatah berkata, "Kalau demikian ikutlah bersamaku menjumpainya karena ia memerintahkan aku untuk mengajakmu." Hanatah berangkat bersama Abdul Mutalib bin Hasyim dan beberapa anaknya hingga tiba di Askar. Kemudian Abdul Mutalib mencari temannya, Dzu Nafar --sampai ia masuk dan Dzu Nafar masih dalam penjara-- ia berkata, "Wahai Dzu Nafar! Apakah engkau dapat membantu kami?" Dzu Nafar menjawab, "Bantuan apa yang dapat diberikan seorang tawanan raja yang hanya menunggu kapan akan dibunuh, pagi atau siang? Aku tidak dapat membantu kamu, kecuali aku akan menunjukkan temanku bernama Anis, seorang pengembala gajah. Aku akan antarkan kamu kepadanya dan aku akan memesan kepadanya agar ia membantu kamu. Mintalah kepadanya agar diizinkan untuk menjumpai raja, lalu ceritakan keperluanmu, dia akan memudahkan urusanmu di hadapan raja, jika dia mampu." Abdul Mutalib berkata, "Sudah cukup buatku. Kemudian Dzu Nafar mengantarkannya ke Anis dan ia berkata kepada Anis, "Sesungguhnya Abdul Mutalib adalah tokoh dan pemuka suku Quraisy dan pemilik mata air Mekah yang memberi makan orang yang tinggal di lereng ataupun di atas-atas bukit, dia telah kehilangan 200 ekor unta. Mintakan izin buat dia untuk menghadap raja dan bantulah dia di hadapan raja semampumu." Dia berkata, "Aku akan lakukan." Kemudian Anis berkata kepada Abrahah, "Wahai raja! Ini ada seorang pemuka suku Quraisy di pintu meminta izin untuk menjumpaimu. Dia adalah pemilik mata air di Mekah, dialah yang memberi makan orang banyak, baik yang tinggal di lereng atau di atas gunung, izinkanlah dia bertemu denganmu untuk membicarakan suatu keperluan." Kemudian Abrahah mengizinkannya masuk.
Abdul Mutalib adalah orang yang gagah, mulia dan ganteng. Ketika Abrahah melihatnya, ia memuliakan dan menghormatinya dan mempersilahkan duduk di bawah. Raja Habsyah tidak senang melihatnya duduk di singgasana kerajaannya, maka Abrahah turun dan duduk di permadani, duduk berdampingan dengan Abdul Mutalib. Kemudian ia berkata kepada penterjemahnya agar menanyakan kepada Abdul Mutalib, apa keperluan kamu? Penterjemah itu bertanya kepada Abdul Mutalib, Abdul Mutalib menjawab, "Aku ingin agar raja mengembalikan unta-untaku sebanyak 200 ekor yang telah diambil." Ketika dikatakan demikian, Abrahah berkata kepada penterjemahnya agar mengatakan kepadanya, "Penampilan Anda membuatku kagum ketika pertama bertemu, tetapi kekaguman itu telah hilang ketika Anda berbicara demikian kepadaku. Apakah Anda hanya menanyakan tentang 200 unta milik Anda dan meninggalkan perkara Rumah Tua itu (Kakbah). Bukankah ia adalah agama kamu dan agama nenek moyang kamu? Sesungguhnya aku datang akan menghancurkannya, kenapa Anda tidak membicarakan masalah tersebut?" Abdul Mutalib berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah pemilik unta-unta sedangkan Kakbah itu mempunyai Pemilik yang akan menjaganya." Abrahah berkata, "Tidak ada yang akan menghalangiku." Abdul Mutalib berkata, "Kalau demikian terserah Anda. Kemudian unta-unta Abdul Mutalib dikembalikan.
Abdul Mutalib kembali ke suku Quraisy dan menceritakan pertemuannya dengan Abrahah kepada mereka. Beliau memerintahkan orang-orang Quraisy untuk keluar dari Mekah dan berlindung di atas-atas gunung. Abdul Mutalib bangkit dan mengunci pintu Kabah. Bersama dengan beberapa orang Quraisy, beliau berdoa kepada Allah Taala agar dapat mengalahkan Abrahah dan tentaranya. Pagi harinya, Abrahah dan tentaranya telah bersiap untuk memasuki Mekah dengan menunggang gajah bernama Mahmud. Ketika mereka bergerak menuju Mekah, mereka bertemu dengan Nufail bin Habib. Ia menghampiri gajah kemudian memegang kupingnya dan berkata, "Duduklah dan kembalilah ke tempatmu, sesungguhnya kamu berada di negeri Haram." Dia melepaskan kuping gajah itu dan gajah itupun duduk berlutut.
Tentara Abrahah memukul gajah tersebut agar bangun, tetapi ia enggan. Mereka menghadapkannya ke Yaman, maka gajah itu bangkit berjalan menuju Yaman. Mereka mengarahkannya ke Syam, gajah itu menurut..
Mereka menghadapkannya ke Masyrik, gajah itu menurut, mereka menghadapkan ke Mekah, gajah itu duduk berlutut. Allah mengutus kepada mereka sekumpulan burung dari arah laut seperti burung layang-layang dan burung bangau, masing-masing membawa tiga butir batu, sebutir di paruhnya dan dua butir di kedua kakinya. Batu tersebut sebesar kacang humush dan kacang adas. Tidak ada yang terkena batu tersebut kecuali ia binasa. Tidak semuanya terkena lontaran batu tersebut. Mereka akhirnya keluar Mekah. Di tengah jalan mereka berjatuhan dan mati dalam keadaan yang mengerikan. Abrahah terkena lontaran batu tersebut, tentaranya membawa ia keluar Mekah dengan jari-jari terputus hingga tiba di Shan'a. Di sana ia meninggal.
Tahun Gajah 2
Siapa yang tidak kenal dengan Abrahah. Tentulah dulu saat kanak-kanak maupun SD, guru agama atau guru ngaji pernah menceritakan tentang kisah Abrahah. Yang merasa tidak pernah diceritain/tidak tau kisah Abrahah, ah kasian sekali dirimu. Hehehehe….
Abrahah adalah seorang kristiani yang berasal dari Habasyah, yang kemudian menjadi penguasa negeri Yaman. Ia sangat iri melihat Ka’bah yang senantiasa ramai dikunjungi orang-orang dari berbagai penjuru. Mereka datang untuk beribadah (thawaf) dan mengagungkan Allah. Sampai timbul keinginan Abrahah membangun sebuah gereja megah dan indah sebagai tandingan ka’bah, agar orang-orang tertarik untuk mengunjungi gerejanya dan meninggalkan Ka’bah. Gereja tersebut terkenal dengan sebutan Al Qalis. Rupanya rencana jahat Abrahah ini terdengar sampai ke kota Makkah, sehingga pada suatu malam salah seorang dari suku Quraishy, yang marah atas rencana busuk Abrahah, nekad mendatangi gereja Abrahah dan buang hajat (berak) di dalam gereja.
Begitu tau gerejanya dikotori oleh penduduk Makkah, Abrahah marah dan memerintahkan tentaranya menyerang kota Makkah serta menghancurkan Ka’bah. Mereka berangkat ke kota Mekkah dengan mengendarai gajah. Kemudian Allah menurunkan burung ababil dengan batu berapi di paruh serta kakinya, untuk melindungi Ka’bah dari serangan Abrahah dan pasukan gajah. Kemudian Abrahah pun terluka dan kembali ke negeri Yaman. Sesampainya di sana, dia pun mati dengan tubuh yang penuh luka mengerikan.
Saat ini bekas gereja Abrahah yang terletak di kota Sanaa lama (old sanaa city) menjadi tempat pembuangan sampah.
Tahun Gajah 3
Abrahah terkenal karena kepemimpinannya dalam melakukan agresi militernya terhadap orang-orang Quraisy di Mekkah yang terjadi sekitar tahun 570[2] atau 571[3] Masehi, seperti yang diceritakan dalam kisah Islam khususnya dalam al-Fil. Dikisahkan bahwa Abrahah tewas setelah dijatuhi batu-batu panas oleh ababil, kejadian ini terjadi pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah.
Dikisahkan juga bahwa Abrahah telah mengatakan untuk membangun sebuah katedral di San'a yang dikenal sebagai "al-Qulays"[4] Sebagai tandingan Ka'bah di Mekkah dan secara khusus ia datang bersama dengan pasukan gajahnya untuk menghancurkan Ka'bah.
Tahun Gajah 4
Mekah adalah sebuah tempat yang selalu dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai tempat. Pada saat itu ada seorang raja yang sangat berkuasa yaitu Raja Abrahah. Raja Abrahah ini merasa heran karena banyak orang yang pergi berziarah ke Mekah. Maka diketahuinyalah bahwa di Mekah itu ada sebuah bangunan yang disebut dengan Kabah. Timbullah keinginan Raja Abrahah agar para peziarah itu berdatangan untuk berziarah ke negerinya.
Maka Raja Abrahah pun membangun sebuah tempat ibadah (gereja) yang sangat indah. Konon tempat ibadah itu dihiasi dengan emas dan permata. Selesai tempat ibadah itu dibangun, orang-orang tetap tidak tertarik untuk berziarah ke tempat ibadah buatannya. Raja Abrahah merasa heran, apa istimewanya Kabah ini? Hanya sebuah bagunan persegi empat yang kuno. Konon tempat ini adalah tempat ibadah tertua sejak zaman Nabi Adam as.
Maka Raja Abrahah pun memutuskan untuk menghancurkan Kabah. Raja Abrahah lalu mengumpulkan tentaranya yang kuat-kuat. Tentara ini terdiri atas tentara gajah yang merupakan tentara terkuat saat itu. Berangkatlah pasukan gajah ini dipimpin oleh Raja Abrahah menuju ke Mekah untuk menghancurkan Kabah.
Ketika pasukan gajah telah berada di batas kota Mekah, penduduk yang ketakutan datang kepada Abdul Muthalib, kakek Nabi yang akan lahir. “Wahai Abdul Muthalib, Raja Abrahah beserta pasukan gajahnya hendak menghancurkan Kabah, apa yang akan engkau lakukan?” Mendengar pertanyaan itu, Abdul Muthalib menjawab, “Aku adalah pemelihara kambing-kambingku, rumah ini ada pemeliharanya.” Lalu Abdul Muthalib menyuruh mengosongkan kota Mekah. Abdul Muthalib pun membawa ternaknya ke gunung-gunung di sekitar Mekah. Para penduduk merasa heran dengan keputusan Abdul Muthalib. Sekalipun demikian, karena Abdul Muthalib adalah orang yang terpercaya, para penduduk pun mengikuti segala perintahnya.
Pasukan gajah pun memasuki kota Mekah yang kosong. Ketika hendak menghancurkan Kabah dan kota Mekah mereka diserang oleh pasukan burung yang disebut dengan burung Ababil. Kawanan burung ini menjatuhkan batu-batu kerikil yang sangat panas. Batu kerikil yang sangat panas ini disebut dengan sijil (sijjil). Kata orang, batu kerikil ini adalah kerikil dari neraka.
Sijil ini membuat Raja Abrahah beserta pasukan gajahnya hancur seperti daun dimakan ulat. Menurut salah satu tafsir, pasukan gajah ini terkena penyakit lepra yang sangat parah sehingga mati di sana. Menurut tafsir lain, pasukan gajah ini hancur oleh kerikil sijil yang dilemparkan oleh kawanan burung Ababil ini. Nama sijil ini menjadi salah satu rudal andalan Iran untuk mempertahankan negeri dari ancaman invasi negara-negara yang agresif. Seperti diketahui negara Afganistan dan Irak tengah mendapatkan invasi dari negara-negara agresif ini.
Pada tahun itulah Nabi Muhammad saw lahir. Ini adalah salah satu mukjizat yang diturunkan Allah swt kepada Nabi saw dan kepada kakeknya Abdul Muthalib. Kakek Nabi, yaitu Abdul Muthalib adalah penjaga Kabah yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Pemeliharaan dan penjagaan Kabah diserahkan kepada putranya yaitu Abu Thalib. Pemeliharaan dan penjagaan Nabi Muhammad pun diserahkan kepada Abu Thalib setelah Abdul Muthalib meninggal. Abu Thalib adalah ayah dari Sayidina Ali. Sayidina Ali ini akan dipelihara oleh Nabi Muhammad saw.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

www.wewbshot.com