MA’RIFATULLAH
Sesungguhnya semakin dalam dan
sering kita memahami untuk mengenal Allah maka kita akan semakin merasa dekat
dengan-Nya. Semakin dekat perasaan kita kepada Allah, semakin tenang jiwa kita,
sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’anulkarim dalam Surat Ar Ra’du (13) :
38.
Ketika kita berbicara tentang
Allah kita tidak hanya membahas Allah sebagai Rabb (Pencipta) namun kita juga
membahas bahwa Allah sebagai Malik dan Illah. Secara definitif dalam Al Qur’an
dijelaskan bahwa Malik memiliki makna Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa. Illah
memiliki makna sebagai yang paling dicintai, yang paling ditakuti dan yang
menjadi sumber pengharapan.
Allah SWT sebagai pencipta lebih
mudah dipahami dibandingkan memahami Allah sebagai Malik dan Illah. Ini
disebabkan karena memahami Allah sebagai Malik memiliki berbagai konsekuensi
diantaranya konsekuensi pengabdian melaksanakan perintahnya, konsekuensi
menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang paling dicintai, konsekuensi
menjadikan Allah sebagi satu-satunya penguasa diri, dan sebagainya. Konsekuensi
inilah yang biasanya menjadi kendala bagi kita untuk memahami Allah secara
menyeluruh.
Dalam memahami dan mengenal
Allah, kita sebaiknya berkeyakinan bahwa Allah sumber ilmu dan pengetahuan.
Ilmu tersebut berfungsi sebagai pedoman hidup dan sebagai sarana hidup. Dengan
keyakinan itu maka kita akan lebih mudah untuk memahami Allah dan juga akan
memiliki kepribadian yang merdeka dan bebas karena kita hanya menjadikan Allah
sebagai satu-satunya penguasa diri kita, seluruh makhluk bagi kita memiliki
posisi yang sama. Sama-sama hamba Allah jadi kita tidak takut kepada selain
Allah.
II. Makna Mengenal Allah
Ma’rifatullah adalah bahasa Arab yang terdiri dari dua kata ma’rifah dan
Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah yang diajarkan
kepada manusia adalah mengenal melalui hasil penciptannya bukan melalui zat
Allah. Karena dengan akal kita memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh
ilmu yang ada didunia ini apalagi zat Allah.
III. Pentingnya Mengenal Allah
a.
Ma’rifatullah
merupakan ilmu tertinggi yang harus
dipahami manusia. Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya.
Ma’rifatullah adalah ilmu tertinggi sebab jika dipahami memberikan keyakinan
yang dalam. Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari
kegelapan kebodohan kepada cahaya yang terang yaitu keimanan. (QS Luqman (31) :
18)
b.
Seseorang yang
mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya (QS Adz Dzariyat (51) : 56)
c.
Berilmu dengan
ma’rifatullah sangat penting karena berhubungan dengan manfaat yang
diperolehnya yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, dengan kedua hal
tersebut akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan yang hakiki.
IV. Jalan Untuk Mengenal Allah
- Akal dan Fitrah
- Pendengaran dan Penglihatan
- Alam semesta
- Manusia dan hewan
- Pengenalan jiwa
- Mu’jizat
- Melalui Asmaul Husna (QS Al
Mu’min (40) : 62, Al Baqarah (2) : 284)
V. Hasil Mengenal Allah
Hasil dari mengenal Allah adalah
peningkatan iman dan taqwa sehingga muncul beberapa hal dibawah ini :
- Kebebasan
Dengan mengenal Allah kita menjadi manusia yang bebas tidak menjadi budak
sesama makhluk dan juga menyembah apapun kecuali Allah SWT yang memang berhak
disembah. (QS Al An’am (6) : 82).
- Memberi ketenangan. (QS Ar
‘Radu (13) : 28)
- Keberkahan (QS Al A’raf (7) :
96)
- Kehidupan yang baik (QS An
Nahal (16) : 97)
- Syurga (QS Yunus (10) :
25-26)
- Keridhoaan Allah
(Mardhotillah) (QS Al Bayyinah (98) : 8)
VI. Hal-Hal yang Menghalangi Mengenal Allah
- Kesombongan (QS An Nahal (16)
: 22, Al Mu’min (40) : 35)
- Dzalim (QS As Shaff (61) : 7)
- Tidak berpengetahuan, (QS Az
Zumar (39) : 65-66)
- Dusta (QS Al Baqarah (2) :
10, Al Mursalat (77) :19)
- Menyimpang (QS Al Maidah (5)
: 13)
- Berbuat kerusakan/fasad (QS
Al Hasyr (59) : 19)
- Lalai (QS Al A’raf (7) : 179)
- Banyak berbuat maksiat, (QS
Al Muthaffifiin (83) : 14)
- Ragu-ragu (QS An Nur (24) :
50)
Semua sifat diatas merupakan bibit kekafiran kepada Allah yang harus
dibersihkan dari hati dan pemahaman. Kekafiran yang menyebabkan Allah mengunci
hati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka akibat
perbuatan mereka.
Referensi :
1. Allah Jalla Jalalahu, Said Hawwa
2. Ma’rifatullah, DR. Irwan Prayitno
3. Petunjuk Jalan, Sayyid
Quthb
4. Tazkiyatun Nafs, Said
Hawwa
5. Aqidah Seorang Muslim, Al
Ummah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
www.wewbshot.com