10
Muwashofat (10 Ciri Pribadi Muslim)
Mungkin anda termasuk yang sering mendengar 10
pribadi dalam seorang mulsim atau sering di sebut dengan 10 muwashofat dan
kalau belum tau apa itu 10 pribadi seorang muslim, Check This Out.!
1. Salimul Aqidah (aqidahnya bersih)
Akidah adalah asas dari amal. Amal-amal yang
baik dan diridhai Allah lahir dari aqidah yang bersih. Dari sini akan lahir
pribadi-pribadi yang memiliki jiwa merdeka, keberanian yang tinggi, dan
ketenangan. Sebab, tak ada ikatan dunia yang mampu membelenggunya, kecuali
ikatan kepada Allah swt. Seorang kader dakwah yang baik akan selalu menjaga
kemurnian aqidahnya dengan memperhatikan amalan-amalan yang bisa mencederai
keimanan dan mendatangkan kemusyrikan. Sebaliknya, selalu berusaha melakukan
amalan-amalan yang senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah
swt.
Aplikasi: Senantiasa bertaqorrub (menjalin
hubungan) dengan Allah, ikhlas dalam setiap amal, mengingat hari akhir dan
bersiap diri menghadapinya, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, dzikrullah di
setiap waktu dan keadaan, menjauhi praktik yang membawa pada kemusyrikan.
2. Shahihul Ibadah (ibadahnya benar)
Ibadah, wajib dan sunnah, merupakan sarana
komunikasi seorang hamba dengan Allah swt. Kedekatan seorang hamba ditentukan
oleh intensitas ibadahnya. Ibadah menjadi salah satu pintu masuk kemenangan
dakwah. Sebab, ibadah yang dilakukan dengan ihsan akan mendatangkan kecintaan
Allah swt. Dan kecintaan Allah akan mendatangkan pertolongan.
Aplikasi: Menjaga kesucian jiwa, berada dalam
keadaan berwudhu di setiap keadaan, khusyu dalam shalat, menjaga waktu-waktu
shalat, biasakan shalat berjamaah di masjid, laksanakan shalat sunnah, tilawah
al-Qur’an dengan bacaan yang baik, puasa Ramadhan, laksanakan haji jika ada
kesempatan.
3. Matinul Khuluq (akhlaqnya tegar)
Seorang kader dakwah harus ber-iltizam dengan
akhlaq islam. Sekaligus memberikan gambaran yang benar dan menjadi qudwah
(teladan) dalam berperilaku. Kesalahan khuliqiyah pada seorang kader dakwah
akan berdampak terhadap keberhasilan dakwah.
Aplikasi: Tidak takabur, tidak dusta, tidak
mencibir dengan isyarat apapun, tidak menghina dan meremehkan orang lain,
memenuhi janji menghindari hal yang sia-sia, pemberani, memuliakan tetangga.
Bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjenguk orang sakit, sedkit bercanda,
tawadhu tanpa merendahkan diri.
4. Qadirul’alal Kasb (kemampuan
berpenghasilan)
Kita mengenal prinsip dakwah yang berbunyi
”shunduquna juyubuna (sumber keuangan kita dari kantong kita sendiri)”. Yang
berarti setiap kader harus menyadari bahwa dakwah membutuhkan pengorbanan
harta. Oleh karena itu setiap kader dakwah harus senantiasa bekerja dan
berpenghasilan dengan cara yang halal. Tidak menjadikan dakwah sebagai sumber
kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi sumber penghasilan haram,
menjauhi riba, membayar riba, membayar zakat, menabung meski sedikit, tidak
menunda hak dalam melaksanakan hak orang lain, bekerja dan berpenghasilan,
tidak berambisi menjadi pegawai negeri. Mengutamakan produk umat Islam, tidak
membelanjakan harta kepada non-muslim.
5. Mutsaqaful Fiqr (pikirannya intelek)
Intelektualitas seorang kader dakwah menjadi
salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah. Sejarah para nabi juga
memperlihatkan hal itu. Kita melihat bagaimana ketinggian intelektualitas Nabi
Ibrahim, dengan bimbingan wahyu, mampu mematahkan argumentasi Namrud. Begitu
pula kecerdasan Rasul dalam mengemban amanah dakwahnya, sehingga ia digelari
fathonah (orang yang cerdas).
Aplikasi: Baik dalam membaca dan menulis.
Upayakan mampu berbahasa Arab, menguasai hal-hal tertentu dalam masalah fiqih
seperti shalat, thaharah dan puasa, memahami syumuliatul Islam, memahami
ghazwul fikri, mengetahui problematika kaum nasional dan internasional,
menghafal al-Qur’an dan hadits, memiliki perpustakaan pribadi sekecil apapun.
6. Qawiyul Jism (fisiknya kuat)
Beban dakwah yang diemban para kader dakwah
sangat berat. Kekuatan ruhiyah dan fikriyah saja tidak cukup untuk mengemban
amanah itu. Harus ditopang oleh kekuatan fisik yang prima. Sejumlah keterangan
al-Qur’an dan Hadits menjelaskan betapa pentingnya aspek ini.
Aplikasi: Bersih pakaian, badan dan tempat
tinggal, menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah, berolahraga, bangun
sebelum fajar, tidak merokok, selektif dalam memilih produk makanan, hindari
makanan/minuman yang menimbulkan ketagihan, puasa sunnah, memeriksakan
kesehatan.
7. Mujahidu Linafsihi (bersungguh-sungguh)
Bersungguh-sungguh adalah salah satu ciri
orang mukmin. Tak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa kesungguhan. Kesadaran
bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat, dan kehidupan abadi adalah
kehidupan akhirat, akan melahirkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi segala yang haram, menjauhi
tempet-tempat maksiat, memerangi dorongan nafsu, selalu menyertakan niat jihad,
hindari mengkonsumsi yang mubah, menyumbangkan harta untuk amal islami,
menyesuaikan perkataan dengan perbuatan, memenuhi janji, sabar, berani
menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
8. Munazham fi syu’unihi (teratur dalam semua
urusannya)
Seorang kader dakwah harus mampu membangun
keteraturan dalam kehidupan pribadi dan keluarganya agar bisa menghadapi
persoalan umat yang rumit dan kompleks.
Apalikasi: Memperbaiki penampilan, jadikan
shalat sebagai penata waktu, teratur di dalam rumah dan tempat kerjanya,
disiplin dalam bekerja, memprogram semua urusan, berpikir secara ilmiah untuk
memecahkan persoalan, tepat waktu dan teratur.
9. Haritsun ’ala waqtihi (efisien menjaga
waktu)
Untuk menggambarkan betapa pentingnya waktu,
ada pepatah mengatakan ”waktu ibarat pedang”. Bila tak mampu dimanfaatkan maka
pedang waktu akan menebas leher kita sendiri. Seorang kader harus mampu seefektif
mungkin memanfaatkan waktu yang terus bergerak. Tak boleh ada yang terbuang
percuma.
Aplikasi: Bangun pagi, menghabiskan waktu
untuk belajar, mempersingkat semua urusan (tidak bertele-tele). Mengisi waktu
dengan hal-hal yang bermanfaat, tidak tidur setelah fajar.
10. Nafi’un Lighairihi (berguna bagi orang
lain)
Rasul menggambarkan kehidupan seorang mukmin
itu seperti lebah yang akan memberi manfaat pada lingkungan sekitarnya. Kader
dakwah memberi manfaat karena setiap ucapan dan gerakannya akan menjadi teladan
bagi sekitarnya.
Aplikasi: Melaksanakan hak orang tua, ikut
berpartisipasi dalam kegembiraan, membantu yang membutuhkan, menikah dengan
pasangan yang sesuai, komitmen dengan adab Islam di dalam rumah, melaksanakan
hak-hak pasangannya (suami-istri), melaksanakan hak-hak anak, memberi hadiah
pada tetangga, mendo’akan yang bersin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
www.wewbshot.com