Rabu, 06 Maret 2013

Abah...


Abah…
Pagi ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku. Betapa tidak, selama seminggu berjuang untuk menghadapi ujian semester dua ditengah kondisi abah yang seringkali sakit akhir-akhir ini, tetapi bagaimanapun juga ayah tetap juga berusaha kerja disawah.
            abah bilang “ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” abah memberikan pesan yang begitu hangat, membuat hatiku luluh dan mataku berkaca-kaca.
            “insyaAllah abah, mohon doanya dari abah dan umi” aku langsung memeluk abah dan abah mengusap-usap kepalaku tangan lembutnya yang telah menjadi sedikit kasar  dengan penuh kasih sayang.
            “kalau masalah doa, abah dan umi tentu saja mendoakanmu, seperti yang kau minta.” Kata-kata umi turut menyumbangkan persaan haruku, aku tak kuasa menahan air mataku, akhirnya air mataku pecah dan terisak.
            Entah kenapa kejadian itu membuatku begitu bersemangat sekolah dan tak ingin membuat abah dan umi kecewa, sekalipun tidak cukup uang untuk membeli buku, aku usahakan untuk meminjam buku dengan teman yang punya buku. Mungkin bagi seseorang itu hal biasa, tetapi bagi aku yang pemalu ini aku sebenarnya enggan untuk melakukannya. Mungkin karena itulah abah dan umi memberiku semangat.
            Aku berkaca dicermin sambil berkata “ya, pagi ini aku bertekad apapun hasilnya aku harus ikhlaskan dengan semua yang udah aku usahakan, semangat syafa,” aku tersenyum gembira mengatakan hal itu.
            “syafa, ayo cepat berangkat, nanti telat pemberitahuan raportnya” umi mengingatkanku
            “oh iya.. umi” aku langsung bergegas keluar kamar, mencari umi diruang tengah.
            “bilang sama bu guru umi tidak bisa hadir,” umi ingatkan kata-kata itu lagi setiap ada pembagian raport. Ya, selama ini abah dan umi memang sudah jarang  menemaniku mengambil raport sejak 2 tahun terakhir ini. Bukan tidak mau, tetapi abah dan umi bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami.
            “sip umi, guru syafa udah tau kok, palingan nanti guru syafa bilang gini, syafa maaf kan ibu guru karena belum bisa  menyerahkan raportnya langsung dihadapan umi syafa” candaku pada umi.
            “dasar kamu” umi menyubit pipiku dengan senyumnya yang indah.

***



            “Alhamdulillah, Ya Allah”. Syukurku pada Allah yang telah memberikanku juara pertama.
Ini adalah kali pertamanya aku mendapatkan juara pertama, selama ini rangking yang paling tinggi rangking lima.
            “Subhanallah, selamat ya syafa” kata nia sahabatku “kamu bukan hanya juara 1 dikelas tapi juga umum.
            “Alhamdulillah, terimakasih ya nia” aku langsung memeluknya dengan riang, saking riangnya kuajak ia melompat-lompat kegirangna bersamaku. Tiba-tiba “DEG”
            “lho ada apa syafa” Tanya nia keheranan melihat ekspresiku yang tiba-iba  berubah.
            “aku cuman teringat sama abah dan umi, aku harus cepat-cepat pulang”, aku sudah tak sabar ingin memberitahu kabar baik ini pada abah “abah pasti senang dengar berita ini”
            “ya sudah, yuk kita pulang” nia langsung menggandengku,tampaknya ia lebih bersemangat.
            Selama diperjalanan aku hanya memikirkan bagaimana nanti ekspresi abah dan umi. Aku menatap birunya langit. Aku tidak tahu bagaimana menngambarkan perasaan ini. Mataku berkaca-kaca.hingga aku tak merasakan jauhnya kami berjalan kaki untuk menuju rumah. Maklum di tempat tinggal kami tidak ada angkot. Aku tidak menyadari ternyata aku sudah hampir sampai dirumah. Rumahku dengan nia lumayan dekat, biasanya aku duluan sampai.
            “eh syafa” nia berhenti dan menepuk bahuku. Aku pun tersadar dari lamunanku.
            Aku keheranan “ha, ada apa nia? Udah sampai ya kita? Rumahku kan di…..,,,,” kataku terhenti ketika ku arahkan pandanganku ketempat keramaian.”kenapa disana ramai sekali?” tanyaku dengan penuh curiga.
            “dengar, seperti ada yang bacakan surah yasin” nia coba kenali suara apa itu
            “iya nia benar” aku juga mendengarnya begitu jelas.
            “syafa yuk kita kesana” ajak nia
            Setelah kami berjalan mencoba melihat keramaian apa yang terjadi. Dan tiba-tida aku tersadar. Yah, ternyata keramaian itu adalah warga yang datang dari kampungku ada juga warga yang tidak ku kenal, ku pastikan itu adalah warga kampung sebelah yang juga datang.
            “nia, ini kan rumahku, kenapa aku gak sadar?” kataku pada nia, aku tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu hal..
            “syafa” sapa seseorang padaku..
            Ku cari sumber suara itu.       “teteh andin” aku terkejut “ada apa teh, kenapa rumah syafa ramai begini?” aku mulai berkaca-kaca
Ku lihat wajah teteh andin sendu, matanya turut berkaca-kaca namun ia berusaha tersenyum padaku sambil  memegang  kedua  pundakku dan menatapku dalam.
            “syafa, yang sabar yah, abah telah  kembali kepada-NYA” kata-kata teteh tersekat. Tangisnyapun pecah, tak kuasa ia menahan dan langsung memelukku erat-erat.
            Aku hanya terdiam, aku masih belum percaya, tetapi air mataku mengalir begitu mendengar kabar itu “innalillahi wa innalillahi roji’un, abah”  kata itu yang sekuat tenaga mungkin ku ucapkan dalam hati yang begitu rapuh.
            Teteh andin pun melepaskan pelukannya, dan aku pun langsung berlari kedalam ingin kucium wajah abah dan tangannya.
            “abah, syafa juara umum bah, abah, abah dengarkan, syafa juara umum, abah, abaaaaaaaaaahhhhhh” bisikku penuh tangis. Ku cium kening dan tangan abah untuk terakhir kalinya. Dalam hati ku berharap abah akan tersenyum padaku dan akan memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Namun kali ini aku yang mengucapkan selamat pada abah “abah selamat jalan, semoga engkau berada disis-NYA sampaikan pada-NYA bahwa aku mencintai abah karena-NYA”
***
           
Ya baru ku tahu abah terkenang jantungan saat bekerja di sawah. Abah memang sering mengeluh sakit tetapi tidak pernah mengeluh dihadapanku, aku hanya diam-diam menatap abah. Ketika ku tanyakan , abah selalu bilang “abah baik-baik saja” sembari memberi  senyum hangatnya padaku.
Seminggu kepergian abah semuanya berubah, aku mulai tidak mau kesekolah lagi, aku tidak mau keluar kamar. Aku mengurung diriku dikamar. aku tidak mau makan. Umi berusaha membujukku dan mengingatkanku.
“fa, ayo makan nak, kamu dari kemarin gak makan-makan nanti kamu sakit” kata umi dengan menahan tangis.
Aku hanya diam dalam tatapan kosong.
“syafa, jangan terus seperti ini, abah bakalan sedih jika melihatmu begini”umi menangis
Kutatap umi dengan mataku yang sudah sembab.
            “umi,jangan nangis” suara serakku.
            “bagaimana umi tidak menangis dengan keadaan anak umi seperti ini ,” tangis umi belum pernah kudengar seperti ini sebelumnya, hatiku yang mulanya tak peduli dan hanya memikirkan dan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku ingin menyusul abahku saja namun sekarang hatiku benar-benar terhenyuk dan aku mulai merasa bersalah karena membuat umi menangis karena tingkahku.
            “umi juga tidak mau makan kalau kamu tidak mau makan juga,” tegas umi padaku.
            “umi, jangan begitu, umi harus makan” suara serakku dengan wajah memelas
            “kenapa umi tidak boleh begitu, umi sudah cukup sedih dengan kepergian separuh hatimu umi, dan umi juga tidak tega melihat buah hatiku begini. Umi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah abah untuk menjagamu dan membuatmu bahagia” umi menangis tersedu-sedu “umi ingin menghukum diri umi karena belum bisa memenuhi amanah abahmu”
            “dengan tidak makan?” tanyaku “umi jangan menghukum diri umi”
            “kalau syafa tidak mau umi menghukum diri umi, berhentilah begini, atau tidak….” Kata-kata umi terhenti menahan tangis, “umi akan tetap menghukum diri umi” umi langsung berdiri dengan tangisnya dan meninggalkan aku yang lemah ini
            Airmataku terus mangalir “umi jangan hukum diri umi, syafa gak mau umi sakit” dan aku pun tak sadarkan diri.
***

            Aku terbangun dan aku sudah berada di sebuah ruangan. Aku lihat langit-langit ruangan itu.
            “sepertinya ini bukan kamarku,” aku sadar bahwa aku tidak sedang berada dikamarku
            “eh sudah bangun,ya syafa” sapa seorang wanita berjilbab dengan pakaian serab putih sambil membawa peralatan medis yang ditemani dengan dua orang yang juga serba putih. Dan aku menyadari ternyata aku sedang ada dirumah sakit
            “dokter, dimana umi” terasa berat begiku untuk berbicara karena lemahnya tubuhku ini, namun karena rindunya aku pada umi serasa sudah lama tak bersua membuat aku berusaha sekuat tenaga untuk bertanya
            “sebentar lagi kesini, dokter periksa dulu ya” dokter berusaha menghibur diriku dengan senyumnya.
            Sesaat setelah dokter memeriksa ku. Umi datang bersama dengan teteh andin adik abah.
            “bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?” Tanya umi sembari membelai pipiku.
Ya Allah terasa begitu lembut dan hangat tangan umi.
            Aku tidak menjawab pertanyaan umi. Aku ingin mengatakan hal yang lain.
            “umi, syafa minta maaf atas sikap syafa, syafa janji akan kembali bersekolah, dan syafa gak akan kecewakan abah dan umi”
            “Alhamdulillah, umi senang mendengarnya” senyum manis terpancar dari umi serta teteh andin dan sahabatku nia
            “syafa harus kembali bangkit, pasti abah syafa senang dan tenang disana karena syafa sudah mau move on” teteh andin menghiburku
            “iya syafa harus ceria lagi, nia sudah kengen belajar bareng syafa lagi” hibur nia
            “nuhun teteh andin, nia,”
            “MOVE ON”  ya syafa harus move on, kata-kata semangat dari teteh membagkitkan aku yang sudah terpuruk oleh keegoisan diriku sendiri. Terlalu larut dalam kesedihan tanpa berpikir bahwa orang-orang disekitar mengingankan kau yang ceria dan terus berusaha dan mewujudkan impian yang pernah abah sampaikan padaku ““ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” yah, aku harus jadi kebanggan abah dan umi.
***
           
            Malam ini disepertiga malam terakhir ,aku rebahkan diriku, kuserahkan hati dan jiwaku yang mudah lemah dan rapuh ini pada Rabb yang Maha pemilik hati. Kutengadahkan tanganku dengan penuh pengharapan doa serta penuh airmata penyesalan
            “Ya Allah ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dan sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu kecil. Ya Allah letakkan Abah disisiMU, lindungi ia dari azab kubur dan tenangkanlah ia Ya Allah karena selama ini hamba sudah membuatnya tidak tenang karena terlalu larut dalam kesediha hamba , Ya Allah kuatkan lah hamba juga umi dalam menjalani kehidupan kami, Ya Allah kabulkanlah, Aamiin”
THE END
Semoga tulisan ini bermanfaat buat sobat-sobat semua ^_^. Sile kasih komentar dan sampaikan ibrah (hikmah) yang bisa sobat ambil dalam cerita sederhana ini.
Jazakumullah khairan katsir J
           

               
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

www.wewbshot.com