Abah…
Pagi ini adalah hari yang sangat
mendebarkan bagiku. Betapa tidak, selama seminggu berjuang untuk menghadapi
ujian semester dua ditengah kondisi abah yang seringkali sakit akhir-akhir ini,
tetapi bagaimanapun juga ayah tetap juga berusaha kerja disawah.
abah bilang
“ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga
umi” abah memberikan pesan yang begitu hangat, membuat hatiku luluh dan mataku
berkaca-kaca.
“insyaAllah
abah, mohon doanya dari abah dan umi” aku langsung memeluk abah dan abah
mengusap-usap kepalaku tangan lembutnya yang telah menjadi sedikit kasar dengan penuh kasih sayang.
“kalau
masalah doa, abah dan umi tentu saja mendoakanmu, seperti yang kau minta.”
Kata-kata umi turut menyumbangkan persaan haruku, aku tak kuasa menahan air
mataku, akhirnya air mataku pecah dan terisak.
Entah kenapa
kejadian itu membuatku begitu bersemangat sekolah dan tak ingin membuat abah
dan umi kecewa, sekalipun tidak cukup uang untuk membeli buku, aku usahakan
untuk meminjam buku dengan teman yang punya buku. Mungkin bagi seseorang itu
hal biasa, tetapi bagi aku yang pemalu ini aku sebenarnya enggan untuk
melakukannya. Mungkin karena itulah abah dan umi memberiku semangat.
Aku berkaca
dicermin sambil berkata “ya, pagi ini aku bertekad apapun hasilnya aku harus
ikhlaskan dengan semua yang udah aku usahakan, semangat syafa,” aku tersenyum
gembira mengatakan hal itu.
“syafa, ayo
cepat berangkat, nanti telat pemberitahuan raportnya” umi mengingatkanku
“oh iya..
umi” aku langsung bergegas keluar kamar, mencari umi diruang tengah.
“bilang sama
bu guru umi tidak bisa hadir,” umi ingatkan kata-kata itu lagi setiap ada
pembagian raport. Ya, selama ini abah dan umi memang sudah jarang menemaniku mengambil raport sejak 2 tahun
terakhir ini. Bukan tidak mau, tetapi abah dan umi bekerja untuk mencukupi
kebutuhan kami.
“sip umi,
guru syafa udah tau kok, palingan nanti guru syafa bilang gini, syafa maaf kan
ibu guru karena belum bisa menyerahkan
raportnya langsung dihadapan umi syafa” candaku pada umi.
“dasar kamu”
umi menyubit pipiku dengan senyumnya yang indah.
***
“Alhamdulillah,
Ya Allah”. Syukurku pada Allah yang telah memberikanku juara pertama.
Ini adalah kali pertamanya aku mendapatkan juara pertama,
selama ini rangking yang paling tinggi rangking lima.
“Subhanallah,
selamat ya syafa” kata nia sahabatku “kamu bukan hanya juara 1 dikelas tapi
juga umum.
“Alhamdulillah,
terimakasih ya nia” aku langsung memeluknya dengan riang, saking riangnya
kuajak ia melompat-lompat kegirangna bersamaku. Tiba-tiba “DEG”
“lho ada apa
syafa” Tanya nia keheranan melihat ekspresiku yang tiba-iba berubah.
“aku cuman
teringat sama abah dan umi, aku harus cepat-cepat pulang”, aku sudah tak sabar
ingin memberitahu kabar baik ini pada abah “abah pasti senang dengar berita
ini”
“ya sudah,
yuk kita pulang” nia langsung menggandengku,tampaknya ia lebih bersemangat.
Selama
diperjalanan aku hanya memikirkan bagaimana nanti ekspresi abah dan umi. Aku
menatap birunya langit. Aku tidak tahu bagaimana menngambarkan perasaan ini.
Mataku berkaca-kaca.hingga aku tak merasakan jauhnya kami berjalan kaki untuk
menuju rumah. Maklum di tempat tinggal kami tidak ada angkot. Aku tidak
menyadari ternyata aku sudah hampir sampai dirumah. Rumahku dengan nia lumayan
dekat, biasanya aku duluan sampai.
“eh syafa”
nia berhenti dan menepuk bahuku. Aku pun tersadar dari lamunanku.
Aku
keheranan “ha, ada apa nia? Udah sampai ya kita? Rumahku kan di…..,,,,” kataku
terhenti ketika ku arahkan pandanganku ketempat keramaian.”kenapa disana ramai
sekali?” tanyaku dengan penuh curiga.
“dengar,
seperti ada yang bacakan surah yasin” nia coba kenali suara apa itu
“iya nia
benar” aku juga mendengarnya begitu jelas.
“syafa yuk
kita kesana” ajak nia
Setelah kami
berjalan mencoba melihat keramaian apa yang terjadi. Dan tiba-tida aku
tersadar. Yah, ternyata keramaian itu adalah warga yang datang dari kampungku
ada juga warga yang tidak ku kenal, ku pastikan itu adalah warga kampung
sebelah yang juga datang.
“nia, ini
kan rumahku, kenapa aku gak sadar?” kataku pada nia, aku tiba-tiba
mengkhawatirkan sesuatu hal..
“syafa” sapa
seseorang padaku..
Ku cari
sumber suara itu. “teteh andin” aku
terkejut “ada apa teh, kenapa rumah syafa ramai begini?” aku mulai berkaca-kaca
Ku lihat wajah teteh andin sendu, matanya turut berkaca-kaca
namun ia berusaha tersenyum padaku sambil
memegang kedua pundakku dan menatapku dalam.
“syafa, yang
sabar yah, abah telah kembali
kepada-NYA” kata-kata teteh tersekat. Tangisnyapun pecah, tak kuasa ia menahan dan
langsung memelukku erat-erat.
Aku hanya
terdiam, aku masih belum percaya, tetapi air mataku mengalir begitu mendengar
kabar itu “innalillahi wa innalillahi roji’un, abah” kata itu yang sekuat tenaga mungkin ku
ucapkan dalam hati yang begitu rapuh.
Teteh andin
pun melepaskan pelukannya, dan aku pun langsung berlari kedalam ingin kucium
wajah abah dan tangannya.
“abah, syafa
juara umum bah, abah, abah dengarkan, syafa juara umum, abah,
abaaaaaaaaaahhhhhh” bisikku penuh tangis. Ku cium kening dan tangan abah untuk
terakhir kalinya. Dalam hati ku berharap abah akan tersenyum padaku dan akan
memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Namun kali ini aku yang mengucapkan
selamat pada abah “abah selamat jalan, semoga engkau berada disis-NYA sampaikan
pada-NYA bahwa aku mencintai abah karena-NYA”
***
Ya baru ku tahu abah terkenang
jantungan saat bekerja di sawah. Abah memang sering mengeluh sakit tetapi tidak
pernah mengeluh dihadapanku, aku hanya diam-diam menatap abah. Ketika ku
tanyakan , abah selalu bilang “abah baik-baik saja” sembari memberi senyum hangatnya padaku.
Seminggu kepergian abah semuanya
berubah, aku mulai tidak mau kesekolah lagi, aku tidak mau keluar kamar. Aku
mengurung diriku dikamar. aku tidak mau makan. Umi berusaha membujukku dan mengingatkanku.
“fa, ayo makan nak, kamu dari kemarin
gak makan-makan nanti kamu sakit” kata umi dengan menahan tangis.
Aku hanya diam dalam tatapan kosong.
“syafa, jangan terus seperti ini,
abah bakalan sedih jika melihatmu begini”umi menangis
Kutatap umi dengan mataku yang sudah sembab.
“umi,jangan
nangis” suara serakku.
“bagaimana
umi tidak menangis dengan keadaan anak umi seperti ini ,” tangis umi belum
pernah kudengar seperti ini sebelumnya, hatiku yang mulanya tak peduli dan
hanya memikirkan dan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku ingin
menyusul abahku saja namun sekarang hatiku benar-benar terhenyuk dan aku mulai
merasa bersalah karena membuat umi menangis karena tingkahku.
“umi juga
tidak mau makan kalau kamu tidak mau makan juga,” tegas umi padaku.
“umi, jangan
begitu, umi harus makan” suara serakku dengan wajah memelas
“kenapa umi
tidak boleh begitu, umi sudah cukup sedih dengan kepergian separuh hatimu umi,
dan umi juga tidak tega melihat buah hatiku begini. Umi merasa bersalah karena
tidak bisa menjaga amanah abah untuk menjagamu dan membuatmu bahagia” umi
menangis tersedu-sedu “umi ingin menghukum diri umi karena belum bisa memenuhi
amanah abahmu”
“dengan
tidak makan?” tanyaku “umi jangan menghukum diri umi”
“kalau syafa
tidak mau umi menghukum diri umi, berhentilah begini, atau tidak….” Kata-kata
umi terhenti menahan tangis, “umi akan tetap menghukum diri umi” umi langsung
berdiri dengan tangisnya dan meninggalkan aku yang lemah ini
Airmataku
terus mangalir “umi jangan hukum diri umi, syafa gak mau umi sakit” dan aku pun
tak sadarkan diri.
***
Aku terbangun dan aku sudah berada
di sebuah ruangan. Aku lihat langit-langit ruangan itu.
“sepertinya ini bukan kamarku,” aku
sadar bahwa aku tidak sedang berada dikamarku
“eh sudah bangun,ya syafa” sapa
seorang wanita berjilbab dengan pakaian serab putih sambil membawa peralatan
medis yang ditemani dengan dua orang yang juga serba putih. Dan aku menyadari
ternyata aku sedang ada dirumah sakit
“dokter, dimana umi” terasa berat
begiku untuk berbicara karena lemahnya tubuhku ini, namun karena rindunya aku
pada umi serasa sudah lama tak bersua membuat aku berusaha sekuat tenaga untuk
bertanya
“sebentar lagi kesini, dokter
periksa dulu ya” dokter berusaha menghibur diriku dengan senyumnya.
Sesaat setelah dokter memeriksa ku.
Umi datang bersama dengan teteh andin adik abah.
“bagaimana keadaanmu? Apa sudah
membaik?” Tanya umi sembari membelai pipiku.
Ya Allah
terasa begitu lembut dan hangat tangan umi.
Aku tidak menjawab pertanyaan umi.
Aku ingin mengatakan hal yang lain.
“umi, syafa minta maaf atas sikap
syafa, syafa janji akan kembali bersekolah, dan syafa gak akan kecewakan abah
dan umi”
“Alhamdulillah, umi senang
mendengarnya” senyum manis terpancar dari umi serta teteh andin dan sahabatku
nia
“syafa harus kembali bangkit, pasti
abah syafa senang dan tenang disana karena syafa sudah mau move on” teteh andin
menghiburku
“iya syafa harus ceria lagi, nia
sudah kengen belajar bareng syafa lagi” hibur nia
“nuhun teteh andin, nia,”
“MOVE
ON” ya syafa harus move on, kata-kata
semangat dari teteh membagkitkan aku yang sudah terpuruk oleh keegoisan diriku
sendiri. Terlalu larut dalam kesedihan tanpa berpikir bahwa orang-orang
disekitar mengingankan kau yang ceria dan terus berusaha dan mewujudkan impian
yang pernah abah sampaikan padaku ““ syafa adalah anak satu-satunya abah dan
umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” yah, aku harus jadi kebanggan abah
dan umi.
***
Malam ini disepertiga
malam terakhir ,aku rebahkan diriku, kuserahkan hati dan jiwaku yang mudah
lemah dan rapuh ini pada Rabb yang Maha pemilik hati. Kutengadahkan tanganku
dengan penuh pengharapan doa serta penuh airmata penyesalan
“Ya Allah
ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dan sayangi mereka sebagaimana mereka
menyayangi aku sewaktu kecil. Ya Allah letakkan Abah disisiMU, lindungi ia dari
azab kubur dan tenangkanlah ia Ya Allah karena selama ini hamba sudah
membuatnya tidak tenang karena terlalu larut dalam kesediha hamba , Ya Allah kuatkan
lah hamba juga umi dalam menjalani kehidupan kami, Ya Allah kabulkanlah,
Aamiin”
THE END
Semoga tulisan ini bermanfaat buat
sobat-sobat semua ^_^. Sile kasih komentar dan sampaikan ibrah (hikmah) yang
bisa sobat ambil dalam cerita sederhana ini.
Jazakumullah khairan katsir J