Rabu, 06 Maret 2013

Ma'rifatullah


MA’RIFATULLAH


              Mungkin terlintas dalam benak kita, apakah masih perlu membicarakan Allah? Bukankah kita sudah sering mendengar dan menyebut asma- Nya. Bukankah kita sudah tahu bahwa Allah itu Tuhan kita. Tidakkah itu sudah cukup inilah yang menghalangi kita untuk menambah dan memperkaya wawasan kita tentang pemahaman dan pengenalan terhadap pencipta kita, Allah SWT.
                Sesungguhnya semakin dalam dan sering kita memahami untuk mengenal Allah maka kita akan semakin merasa dekat dengan-Nya. Semakin dekat perasaan kita kepada Allah, semakin tenang jiwa kita, sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’anulkarim dalam Surat Ar Ra’du (13) : 38.
                Ketika kita berbicara tentang Allah kita tidak hanya membahas Allah sebagai Rabb (Pencipta) namun kita juga membahas bahwa Allah sebagai Malik dan Illah. Secara definitif dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Malik memiliki makna Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa. Illah memiliki makna sebagai yang paling dicintai, yang paling ditakuti dan yang menjadi sumber pengharapan.
                Allah SWT sebagai pencipta lebih mudah dipahami dibandingkan memahami Allah sebagai Malik dan Illah. Ini disebabkan karena memahami Allah sebagai Malik memiliki berbagai konsekuensi diantaranya konsekuensi pengabdian melaksanakan perintahnya, konsekuensi menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang paling dicintai, konsekuensi menjadikan Allah sebagi satu-satunya penguasa diri, dan sebagainya. Konsekuensi inilah yang biasanya menjadi kendala bagi kita untuk memahami Allah secara menyeluruh.
                Dalam memahami dan mengenal Allah, kita sebaiknya berkeyakinan bahwa Allah sumber ilmu dan pengetahuan. Ilmu tersebut berfungsi sebagai pedoman hidup dan sebagai sarana hidup. Dengan keyakinan itu maka kita akan lebih mudah untuk memahami Allah dan juga akan memiliki kepribadian yang merdeka dan bebas karena kita hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya penguasa diri kita, seluruh makhluk bagi kita memiliki posisi yang sama. Sama-sama hamba Allah jadi kita tidak takut kepada selain Allah.
II. Makna Mengenal Allah
                Ma’rifatullah adalah bahasa Arab yang terdiri dari dua kata ma’rifah dan Allah. Ma’rifah berarti mengetahui, mengenal. Mengenal Allah yang diajarkan kepada manusia adalah mengenal melalui hasil penciptannya bukan melalui zat Allah. Karena dengan akal kita memiliki keterbatasan untuk memahami seluruh ilmu yang ada didunia ini apalagi zat Allah.
III. Pentingnya Mengenal Allah
a.       Ma’rifatullah merupakan ilmu tertinggi  yang harus dipahami manusia. Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma’rifatullah adalah ilmu tertinggi sebab jika dipahami memberikan keyakinan yang dalam. Memahami ma’rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya yang terang yaitu keimanan. (QS Luqman (31) : 18)
b.       Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya (QS Adz Dzariyat (51) : 56)
c.        Berilmu dengan ma’rifatullah sangat penting karena berhubungan dengan manfaat yang diperolehnya yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, dengan kedua hal tersebut akan memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan yang hakiki.

IV. Jalan Untuk Mengenal Allah
  1. Akal dan Fitrah
  2. Pendengaran dan Penglihatan
  3. Alam semesta
  4. Manusia dan hewan
  5. Pengenalan jiwa
  6. Mu’jizat
  7. Melalui Asmaul Husna (QS Al Mu’min (40) : 62, Al Baqarah (2) : 284)
V. Hasil Mengenal Allah
                Hasil dari mengenal Allah adalah peningkatan iman dan taqwa sehingga muncul beberapa hal dibawah ini :
  1. Kebebasan
Dengan mengenal Allah kita menjadi manusia yang bebas tidak menjadi budak sesama makhluk dan juga menyembah apapun kecuali Allah SWT yang memang berhak disembah. (QS Al An’am (6) : 82).
  1. Memberi ketenangan. (QS Ar ‘Radu (13) : 28)
  2. Keberkahan (QS Al A’raf (7) : 96)
  3. Kehidupan yang baik (QS An Nahal (16) : 97)
  4. Syurga (QS Yunus (10) : 25-26)
  5. Keridhoaan Allah (Mardhotillah) (QS Al Bayyinah (98) : 8)
VI. Hal-Hal yang Menghalangi Mengenal Allah
  1. Kesombongan (QS An Nahal (16) : 22, Al Mu’min (40) : 35)
  2. Dzalim (QS As Shaff (61) : 7)
  3. Tidak berpengetahuan, (QS Az Zumar (39) : 65-66)
  4. Dusta (QS Al Baqarah (2) : 10, Al Mursalat (77) :19)
  5. Menyimpang (QS Al Maidah (5) : 13)
  6. Berbuat kerusakan/fasad (QS Al Hasyr (59) : 19)
  7. Lalai (QS Al A’raf (7) : 179)
  8. Banyak berbuat maksiat, (QS Al Muthaffifiin (83) : 14)
  9. Ragu-ragu (QS An Nur (24) : 50)
Semua sifat diatas merupakan bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati dan pemahaman. Kekafiran yang menyebabkan Allah mengunci hati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka akibat perbuatan mereka.


Referensi                : 1. Allah Jalla Jalalahu, Said Hawwa
   2. Ma’rifatullah, DR. Irwan Prayitno
                   3. Petunjuk Jalan, Sayyid Quthb
                   4. Tazkiyatun Nafs, Said Hawwa
                   5. Aqidah Seorang Muslim, Al Ummah

Abah...


Abah…
Pagi ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku. Betapa tidak, selama seminggu berjuang untuk menghadapi ujian semester dua ditengah kondisi abah yang seringkali sakit akhir-akhir ini, tetapi bagaimanapun juga ayah tetap juga berusaha kerja disawah.
            abah bilang “ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” abah memberikan pesan yang begitu hangat, membuat hatiku luluh dan mataku berkaca-kaca.
            “insyaAllah abah, mohon doanya dari abah dan umi” aku langsung memeluk abah dan abah mengusap-usap kepalaku tangan lembutnya yang telah menjadi sedikit kasar  dengan penuh kasih sayang.
            “kalau masalah doa, abah dan umi tentu saja mendoakanmu, seperti yang kau minta.” Kata-kata umi turut menyumbangkan persaan haruku, aku tak kuasa menahan air mataku, akhirnya air mataku pecah dan terisak.
            Entah kenapa kejadian itu membuatku begitu bersemangat sekolah dan tak ingin membuat abah dan umi kecewa, sekalipun tidak cukup uang untuk membeli buku, aku usahakan untuk meminjam buku dengan teman yang punya buku. Mungkin bagi seseorang itu hal biasa, tetapi bagi aku yang pemalu ini aku sebenarnya enggan untuk melakukannya. Mungkin karena itulah abah dan umi memberiku semangat.
            Aku berkaca dicermin sambil berkata “ya, pagi ini aku bertekad apapun hasilnya aku harus ikhlaskan dengan semua yang udah aku usahakan, semangat syafa,” aku tersenyum gembira mengatakan hal itu.
            “syafa, ayo cepat berangkat, nanti telat pemberitahuan raportnya” umi mengingatkanku
            “oh iya.. umi” aku langsung bergegas keluar kamar, mencari umi diruang tengah.
            “bilang sama bu guru umi tidak bisa hadir,” umi ingatkan kata-kata itu lagi setiap ada pembagian raport. Ya, selama ini abah dan umi memang sudah jarang  menemaniku mengambil raport sejak 2 tahun terakhir ini. Bukan tidak mau, tetapi abah dan umi bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami.
            “sip umi, guru syafa udah tau kok, palingan nanti guru syafa bilang gini, syafa maaf kan ibu guru karena belum bisa  menyerahkan raportnya langsung dihadapan umi syafa” candaku pada umi.
            “dasar kamu” umi menyubit pipiku dengan senyumnya yang indah.

***



            “Alhamdulillah, Ya Allah”. Syukurku pada Allah yang telah memberikanku juara pertama.
Ini adalah kali pertamanya aku mendapatkan juara pertama, selama ini rangking yang paling tinggi rangking lima.
            “Subhanallah, selamat ya syafa” kata nia sahabatku “kamu bukan hanya juara 1 dikelas tapi juga umum.
            “Alhamdulillah, terimakasih ya nia” aku langsung memeluknya dengan riang, saking riangnya kuajak ia melompat-lompat kegirangna bersamaku. Tiba-tiba “DEG”
            “lho ada apa syafa” Tanya nia keheranan melihat ekspresiku yang tiba-iba  berubah.
            “aku cuman teringat sama abah dan umi, aku harus cepat-cepat pulang”, aku sudah tak sabar ingin memberitahu kabar baik ini pada abah “abah pasti senang dengar berita ini”
            “ya sudah, yuk kita pulang” nia langsung menggandengku,tampaknya ia lebih bersemangat.
            Selama diperjalanan aku hanya memikirkan bagaimana nanti ekspresi abah dan umi. Aku menatap birunya langit. Aku tidak tahu bagaimana menngambarkan perasaan ini. Mataku berkaca-kaca.hingga aku tak merasakan jauhnya kami berjalan kaki untuk menuju rumah. Maklum di tempat tinggal kami tidak ada angkot. Aku tidak menyadari ternyata aku sudah hampir sampai dirumah. Rumahku dengan nia lumayan dekat, biasanya aku duluan sampai.
            “eh syafa” nia berhenti dan menepuk bahuku. Aku pun tersadar dari lamunanku.
            Aku keheranan “ha, ada apa nia? Udah sampai ya kita? Rumahku kan di…..,,,,” kataku terhenti ketika ku arahkan pandanganku ketempat keramaian.”kenapa disana ramai sekali?” tanyaku dengan penuh curiga.
            “dengar, seperti ada yang bacakan surah yasin” nia coba kenali suara apa itu
            “iya nia benar” aku juga mendengarnya begitu jelas.
            “syafa yuk kita kesana” ajak nia
            Setelah kami berjalan mencoba melihat keramaian apa yang terjadi. Dan tiba-tida aku tersadar. Yah, ternyata keramaian itu adalah warga yang datang dari kampungku ada juga warga yang tidak ku kenal, ku pastikan itu adalah warga kampung sebelah yang juga datang.
            “nia, ini kan rumahku, kenapa aku gak sadar?” kataku pada nia, aku tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu hal..
            “syafa” sapa seseorang padaku..
            Ku cari sumber suara itu.       “teteh andin” aku terkejut “ada apa teh, kenapa rumah syafa ramai begini?” aku mulai berkaca-kaca
Ku lihat wajah teteh andin sendu, matanya turut berkaca-kaca namun ia berusaha tersenyum padaku sambil  memegang  kedua  pundakku dan menatapku dalam.
            “syafa, yang sabar yah, abah telah  kembali kepada-NYA” kata-kata teteh tersekat. Tangisnyapun pecah, tak kuasa ia menahan dan langsung memelukku erat-erat.
            Aku hanya terdiam, aku masih belum percaya, tetapi air mataku mengalir begitu mendengar kabar itu “innalillahi wa innalillahi roji’un, abah”  kata itu yang sekuat tenaga mungkin ku ucapkan dalam hati yang begitu rapuh.
            Teteh andin pun melepaskan pelukannya, dan aku pun langsung berlari kedalam ingin kucium wajah abah dan tangannya.
            “abah, syafa juara umum bah, abah, abah dengarkan, syafa juara umum, abah, abaaaaaaaaaahhhhhh” bisikku penuh tangis. Ku cium kening dan tangan abah untuk terakhir kalinya. Dalam hati ku berharap abah akan tersenyum padaku dan akan memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Namun kali ini aku yang mengucapkan selamat pada abah “abah selamat jalan, semoga engkau berada disis-NYA sampaikan pada-NYA bahwa aku mencintai abah karena-NYA”
***
           
Ya baru ku tahu abah terkenang jantungan saat bekerja di sawah. Abah memang sering mengeluh sakit tetapi tidak pernah mengeluh dihadapanku, aku hanya diam-diam menatap abah. Ketika ku tanyakan , abah selalu bilang “abah baik-baik saja” sembari memberi  senyum hangatnya padaku.
Seminggu kepergian abah semuanya berubah, aku mulai tidak mau kesekolah lagi, aku tidak mau keluar kamar. Aku mengurung diriku dikamar. aku tidak mau makan. Umi berusaha membujukku dan mengingatkanku.
“fa, ayo makan nak, kamu dari kemarin gak makan-makan nanti kamu sakit” kata umi dengan menahan tangis.
Aku hanya diam dalam tatapan kosong.
“syafa, jangan terus seperti ini, abah bakalan sedih jika melihatmu begini”umi menangis
Kutatap umi dengan mataku yang sudah sembab.
            “umi,jangan nangis” suara serakku.
            “bagaimana umi tidak menangis dengan keadaan anak umi seperti ini ,” tangis umi belum pernah kudengar seperti ini sebelumnya, hatiku yang mulanya tak peduli dan hanya memikirkan dan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku ingin menyusul abahku saja namun sekarang hatiku benar-benar terhenyuk dan aku mulai merasa bersalah karena membuat umi menangis karena tingkahku.
            “umi juga tidak mau makan kalau kamu tidak mau makan juga,” tegas umi padaku.
            “umi, jangan begitu, umi harus makan” suara serakku dengan wajah memelas
            “kenapa umi tidak boleh begitu, umi sudah cukup sedih dengan kepergian separuh hatimu umi, dan umi juga tidak tega melihat buah hatiku begini. Umi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah abah untuk menjagamu dan membuatmu bahagia” umi menangis tersedu-sedu “umi ingin menghukum diri umi karena belum bisa memenuhi amanah abahmu”
            “dengan tidak makan?” tanyaku “umi jangan menghukum diri umi”
            “kalau syafa tidak mau umi menghukum diri umi, berhentilah begini, atau tidak….” Kata-kata umi terhenti menahan tangis, “umi akan tetap menghukum diri umi” umi langsung berdiri dengan tangisnya dan meninggalkan aku yang lemah ini
            Airmataku terus mangalir “umi jangan hukum diri umi, syafa gak mau umi sakit” dan aku pun tak sadarkan diri.
***

            Aku terbangun dan aku sudah berada di sebuah ruangan. Aku lihat langit-langit ruangan itu.
            “sepertinya ini bukan kamarku,” aku sadar bahwa aku tidak sedang berada dikamarku
            “eh sudah bangun,ya syafa” sapa seorang wanita berjilbab dengan pakaian serab putih sambil membawa peralatan medis yang ditemani dengan dua orang yang juga serba putih. Dan aku menyadari ternyata aku sedang ada dirumah sakit
            “dokter, dimana umi” terasa berat begiku untuk berbicara karena lemahnya tubuhku ini, namun karena rindunya aku pada umi serasa sudah lama tak bersua membuat aku berusaha sekuat tenaga untuk bertanya
            “sebentar lagi kesini, dokter periksa dulu ya” dokter berusaha menghibur diriku dengan senyumnya.
            Sesaat setelah dokter memeriksa ku. Umi datang bersama dengan teteh andin adik abah.
            “bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?” Tanya umi sembari membelai pipiku.
Ya Allah terasa begitu lembut dan hangat tangan umi.
            Aku tidak menjawab pertanyaan umi. Aku ingin mengatakan hal yang lain.
            “umi, syafa minta maaf atas sikap syafa, syafa janji akan kembali bersekolah, dan syafa gak akan kecewakan abah dan umi”
            “Alhamdulillah, umi senang mendengarnya” senyum manis terpancar dari umi serta teteh andin dan sahabatku nia
            “syafa harus kembali bangkit, pasti abah syafa senang dan tenang disana karena syafa sudah mau move on” teteh andin menghiburku
            “iya syafa harus ceria lagi, nia sudah kengen belajar bareng syafa lagi” hibur nia
            “nuhun teteh andin, nia,”
            “MOVE ON”  ya syafa harus move on, kata-kata semangat dari teteh membagkitkan aku yang sudah terpuruk oleh keegoisan diriku sendiri. Terlalu larut dalam kesedihan tanpa berpikir bahwa orang-orang disekitar mengingankan kau yang ceria dan terus berusaha dan mewujudkan impian yang pernah abah sampaikan padaku ““ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” yah, aku harus jadi kebanggan abah dan umi.
***
           
            Malam ini disepertiga malam terakhir ,aku rebahkan diriku, kuserahkan hati dan jiwaku yang mudah lemah dan rapuh ini pada Rabb yang Maha pemilik hati. Kutengadahkan tanganku dengan penuh pengharapan doa serta penuh airmata penyesalan
            “Ya Allah ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dan sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu kecil. Ya Allah letakkan Abah disisiMU, lindungi ia dari azab kubur dan tenangkanlah ia Ya Allah karena selama ini hamba sudah membuatnya tidak tenang karena terlalu larut dalam kesediha hamba , Ya Allah kuatkan lah hamba juga umi dalam menjalani kehidupan kami, Ya Allah kabulkanlah, Aamiin”
THE END
Semoga tulisan ini bermanfaat buat sobat-sobat semua ^_^. Sile kasih komentar dan sampaikan ibrah (hikmah) yang bisa sobat ambil dalam cerita sederhana ini.
Jazakumullah khairan katsir J
           

               
               

Malu


Malu Sebagian Dari Iman

Assalamu'alaikum wr.wb 
Adik-adik sekalian yang kakak cintai karena Allah. Alhamdulillah Puji dan Syukur ke hadirat Allah swt yang telah memudahkan kita untuk bertemu dalam majelis atau pertemuan kita yang mulia ini. Adik-adik, majelis ini insya Allah akan menjadi tempat bagi kita semua untuk saling mengingatkan akan kebesaran Allah Azza wa Jalla. 
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad saw. Juga tidak lupa kepada keluarga dan para sahabat yang senantiasa menjaga dengan teguh keimanan dan keislamannya hingga akhir hayat mereka dan pengikutnya yang senantiasa istiqomah. 
Adik-aadik sekalian, tentunya pernah denger dong yang namanya "malu"? atau mungkin pernah merasa malu? 
Malu kadang menjadi alasan untuk kita menjadi tidak berani atau tidak pede. Contohnya kalau kalian diminta untuk menyampaikan pendapat di depan temen-teman. Pendapat itu tidak tersampaikan karena malu …….ah. Jika dilihat dari satu contoh diatas sepertinya malu itu terkesan negatif ya? Iya nggak? 
Padahal mungkin kalian juga sering denger kalau malu itu adalah sebagian dari iman. Nah.. sebenarnya malu yang seperti apa sih yang sebagian dari iman itu. Kita akan coba bahas yaaa.. 



Utsman Yang Pemalu
Sekarang kakak mau tanya nih, masih inget enggak siapa khulafa'ur Rasyidin yang ketiga? Ya, betul. Beliau adalah Utsman bin Affan. Alhamdulillah yaa kalian masih inget. Ternyata Utsman itu seorang yang pemalu loh…… Kita simak kisahnya berikut ini : 
Diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah r.a. bahwa pada suatu hari, Abu Bakar meminta izin untuk menjumpai Rasulullah saw, yang ketika itu sedang berbaring, sementara jubahnya tersingsing di salah satu kakinya. Abu Bakar pun diberi izin dan segera masuk. Abu Bakar berbicara dengan Rasulullah sebentar, kemudian ia pun berlalu. Setelah Abu Bakar berlalu, tidak lama datanglah Umar bin Khattab yang juga ingin bertemu dengan Rasulullah dan diberinya izin. Setelah selesai keperluannya Umar pun pergi. 
Setelah keduanya berlalu, datanglah Utsman yang juga ingin bertemu dengan Rasulullah. Sebelum Utsman diizinkan masuk, Aisyah melihat Rasulullah berkemas-kemas, ia segera duduk dan menarik bajunya ke bawah agar menutupi kakinya. Kemudian ia berbicara dengan Utsman. Tak lama setelah Utsman pergi, Aisyah menanyakan kepada Rasulullah saw : 
"Wahai Rasulullah, saya tidak melihat anda berkemas-kemas untuk menerima kedatangan Abu Bakar dan Umar, sebagaimana anda lakukan terhadap kedatangan Utsman!" Maka Sabda Rasulullah saw, " Utsman itu seorang perasa dan seandainya saya izinkan ia masuk sewaktu saya berbaring tentulah ia akan malu untuk masuk dan akan kembali sebelum keperluan yang hendak disampaikannya dapat saya penuhi! 
Hai Aisyah, tidakkah saya akan malu terhadap orang yang dimalui oleh malaikat?" 
Sifat pemalu Utsman dipuji oleh Rasulullah saw, beliau bersabda, " Orang yang paling kasih sayang dari umatku ialah Abu Bakar dan paling teguh dalam memelihara ajaran Allah ialah Umar dan yang paling bersifat pemalu ialah Utsman " (H.R. Ahmad, Ibnu Maajah, At Tirmidzi). 

Malu Kepada Allah
Setelah menyimak kisah Utsman bin affan tadi, ternyata sifat malu itu tidak negatif.. malah dipuji oleh Rasulullah saw. Kenapa demikian? Mau tau jawabannya, kita tanya.. Galileo…. Eh.. Udah gak ada yaaa.. 
Ternyata…… malunya Utsman itu bukan karena malu kepada teman-temannya (minder) melainkan malu kepada Allah swt. Maka dari itu sifat malunya itu tidak menyebabkan bermalas-malasan berbuat kebaikan ataupun jadi minder dan dijauhi oleh sahabat-sahabat yang lain. 
Malah sifat pemalu itulah yang mendorong Utsman r.a. menjadi seorang dermawan yang penuh welas asih. Dan sifat malunya itu telah melindunginya dari kebimbangan dan keragu-raguan terhadap kebenaran. 
Nah…….. berarti sekarang sudah mulai ada titik terang yaaa… malu sebagian dari iman itu, malu yang seperti apa, yaitu malu kepada Allah swt. Yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana sih malu kepada Allah itu? 

Dari Abdullah Ibnu Mas'ud bahwa Nabi saw bersabda, " Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya." Abdullah bertanya kepada Nabi, " Ya Nabinya Allah, sesungguhnya aku malu". Nabi saw bersabda, "    Bukan berarti malumu itu telah dapat disebut malu kepada Allah, tetapi orang yang malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya menjaga kepala dan segala sesuatu yang ada di kepala, menjaga perut dan sesuatu yang ditampungnya dan ingatlah kematian dan cobaan, barangsiapa menginginkan kehidupan akhirat maka tinggalkanlah perhiasan dunia dan pilihlah kehidupan akhirat dengan mengesampingkan kehidupan dunia. Maka barang siapa melakukan yang demikian. Maka dikatakan benar-benar malu kepada Allah", 

Dari hadist diatas, tersirat bahwa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya tidak hanya diucapkan dengan lIsan saja tapi juga harus diikuti dengan keyakinan hati dan amal perbuatan. Karena itu malu adalah sebagian dari iman. Sementara iman itu sendiri adalah keyakinan dalam hati dan diucapkan dengan lIsan serta dibuktikan dengan amal perbuatan. 

Kita malu kepada Allah swt, bila kita berbuat yang tidak disukai oleh Allah karena di dalam hidup ini tidak ada satupun dari perbuatan kita yang luput dari pengawasan Allah swt. Sederhananya begini, kita hidup di dunia ini lagi disyuting sama Allah dan hasilnya akan diperlihatkan di hari akhir nanti. Semua perbuatan kita yang disembunyikan di dunia akan terlihat disitu, sesuatu yang selama ini kita sembunyikan dari penglihatan manusia. 
Manusia merasakan malu karena ia mempunyai akal dan perasaan. Itulah yang membedakannya dengan hewan. Hewan tidak merasa malu tidak berpakaian , sedangkan manusia……. Malu lah yaaa… 
Kenapa hal itu terjadi? Karena hewan tidak diperintahkan oleh Allah untuk menutup auratnya maka dari itu mereka asik-asik aja tuh gak pake baju. Malah kita ngeliatnya aneh dan lucu kalau hewan berpakaian. Sedangkan manusia diperintahkan oleh Allah untuk menutup auratnya, sehingga ia merasa malu kalau tidak berpakaian. Contoh yang lain….seseorang merasa malu apabila ia berdua-duaan (perempuan dan laki-laki) karena Allah melarang untuk berkhalwat atau berdua-duaan laki-laki dan perempuan non muhrim. Kalian bisa cari contoh yang lainnya. Nah….malu yang seperti itulah yang sebagian dari iman, bukan malu karena merasa rendah diri. Ingat yaa rendah diri berbeda dengan rendah hati. Rendah diri adalah merasa dirinya rendah disebabkan karena kurangnya ilmu pengetahuan, pengalaman, kecerdasan, keterampilan ataupun cacat tubuh. Juga karena perasaan bersalah terutama kurang percaya (iman) pada Allah.    Sedangkan rendah hati itu kebalikan dari sombong. Malu untuk berbuat munkar adalah sebagian dari iman, ia adalah pendorong utama agar selalu berbuat kebaikan dan berani meninggalkan kemunkaran. 
Sepertinya sekarang ini sudah banyak yaa.. yang kehilangan rasa malunya……….mereka cenderung berbuat sekehendak mereka tanpa menghiraukan aturan-aturan Allah. 
Abu Mas'ud Uqbah bin Amr Al- Anshari Al Badri berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, " Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah,'Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu." (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari). 
Jadi, terserah kalian …….apakah masih mau mempunyai rasa malu kepada Allah atau tidak. Jika tidak.. silahkan berbuatlah sekehendak kalian dan tentunya Allah telah telah menyiapkan balasan yang telah kita perbuat. 
Nah, adik-adik sepertinya uraian kakak sudah banyak sekali yaa.. mudah-mudahan bisa difahami dan diamalkan. Sebenarnya Kebenaran itu datangnya dari Allah. Wallahu 'alam bi shawab 



Wassalamu'alaikum Wr. Wb. 




Abah…
Pagi ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagiku. Betapa tidak, selama seminggu berjuang untuk menghadapi ujian semester dua ditengah kondisi abah yang seringkali sakit akhir-akhir ini, tetapi bagaimanapun juga ayah tetap juga berusaha kerja disawah.
            abah bilang “ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” abah memberikan pesan yang begitu hangat, membuat hatiku luluh dan mataku berkaca-kaca.
            “insyaAllah abah, mohon doanya dari abah dan umi” aku langsung memeluk abah dan abah mengusap-usap kepalaku tangan lembutnya yang telah menjadi sedikit kasar  dengan penuh kasih sayang.
            “kalau masalah doa, abah dan umi tentu saja mendoakanmu, seperti yang kau minta.” Kata-kata umi turut menyumbangkan persaan haruku, aku tak kuasa menahan air mataku, akhirnya air mataku pecah dan terisak.
            Entah kenapa kejadian itu membuatku begitu bersemangat sekolah dan tak ingin membuat abah dan umi kecewa, sekalipun tidak cukup uang untuk membeli buku, aku usahakan untuk meminjam buku dengan teman yang punya buku. Mungkin bagi seseorang itu hal biasa, tetapi bagi aku yang pemalu ini aku sebenarnya enggan untuk melakukannya. Mungkin karena itulah abah dan umi memberiku semangat.
            Aku berkaca dicermin sambil berkata “ya, pagi ini aku bertekad apapun hasilnya aku harus ikhlaskan dengan semua yang udah aku usahakan, semangat syafa,” aku tersenyum gembira mengatakan hal itu.
            “syafa, ayo cepat berangkat, nanti telat pemberitahuan raportnya” umi mengingatkanku
            “oh iya.. umi” aku langsung bergegas keluar kamar, mencari umi diruang tengah.
            “bilang sama bu guru umi tidak bisa hadir,” umi ingatkan kata-kata itu lagi setiap ada pembagian raport. Ya, selama ini abah dan umi memang sudah jarang  menemaniku mengambil raport sejak 2 tahun terakhir ini. Bukan tidak mau, tetapi abah dan umi bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami.
            “sip umi, guru syafa udah tau kok, palingan nanti guru syafa bilang gini, syafa maaf kan ibu guru karena belum bisa  menyerahkan raportnya langsung dihadapan umi syafa” candaku pada umi.
            “dasar kamu” umi menyubit pipiku dengan senyumnya yang indah.

***



            “Alhamdulillah, Ya Allah”. Syukurku pada Allah yang telah memberikanku juara pertama.
Ini adalah kali pertamanya aku mendapatkan juara pertama, selama ini rangking yang paling tinggi rangking lima.
            “Subhanallah, selamat ya syafa” kata nia sahabatku “kamu bukan hanya juara 1 dikelas tapi juga umum.
            “Alhamdulillah, terimakasih ya nia” aku langsung memeluknya dengan riang, saking riangnya kuajak ia melompat-lompat kegirangna bersamaku. Tiba-tiba “DEG”
            “lho ada apa syafa” Tanya nia keheranan melihat ekspresiku yang tiba-iba  berubah.
            “aku cuman teringat sama abah dan umi, aku harus cepat-cepat pulang”, aku sudah tak sabar ingin memberitahu kabar baik ini pada abah “abah pasti senang dengar berita ini”
            “ya sudah, yuk kita pulang” nia langsung menggandengku,tampaknya ia lebih bersemangat.
            Selama diperjalanan aku hanya memikirkan bagaimana nanti ekspresi abah dan umi. Aku menatap birunya langit. Aku tidak tahu bagaimana menngambarkan perasaan ini. Mataku berkaca-kaca.hingga aku tak merasakan jauhnya kami berjalan kaki untuk menuju rumah. Maklum di tempat tinggal kami tidak ada angkot. Aku tidak menyadari ternyata aku sudah hampir sampai dirumah. Rumahku dengan nia lumayan dekat, biasanya aku duluan sampai.
            “eh syafa” nia berhenti dan menepuk bahuku. Aku pun tersadar dari lamunanku.
            Aku keheranan “ha, ada apa nia? Udah sampai ya kita? Rumahku kan di…..,,,,” kataku terhenti ketika ku arahkan pandanganku ketempat keramaian.”kenapa disana ramai sekali?” tanyaku dengan penuh curiga.
            “dengar, seperti ada yang bacakan surah yasin” nia coba kenali suara apa itu
            “iya nia benar” aku juga mendengarnya begitu jelas.
            “syafa yuk kita kesana” ajak nia
            Setelah kami berjalan mencoba melihat keramaian apa yang terjadi. Dan tiba-tida aku tersadar. Yah, ternyata keramaian itu adalah warga yang datang dari kampungku ada juga warga yang tidak ku kenal, ku pastikan itu adalah warga kampung sebelah yang juga datang.
            “nia, ini kan rumahku, kenapa aku gak sadar?” kataku pada nia, aku tiba-tiba mengkhawatirkan sesuatu hal..
            “syafa” sapa seseorang padaku..
            Ku cari sumber suara itu.       “teteh andin” aku terkejut “ada apa teh, kenapa rumah syafa ramai begini?” aku mulai berkaca-kaca
Ku lihat wajah teteh andin sendu, matanya turut berkaca-kaca namun ia berusaha tersenyum padaku sambil  memegang  kedua  pundakku dan menatapku dalam.
            “syafa, yang sabar yah, abah telah  kembali kepada-NYA” kata-kata teteh tersekat. Tangisnyapun pecah, tak kuasa ia menahan dan langsung memelukku erat-erat.
            Aku hanya terdiam, aku masih belum percaya, tetapi air mataku mengalir begitu mendengar kabar itu “innalillahi wa innalillahi roji’un, abah”  kata itu yang sekuat tenaga mungkin ku ucapkan dalam hati yang begitu rapuh.
            Teteh andin pun melepaskan pelukannya, dan aku pun langsung berlari kedalam ingin kucium wajah abah dan tangannya.
            “abah, syafa juara umum bah, abah, abah dengarkan, syafa juara umum, abah, abaaaaaaaaaahhhhhh” bisikku penuh tangis. Ku cium kening dan tangan abah untuk terakhir kalinya. Dalam hati ku berharap abah akan tersenyum padaku dan akan memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Namun kali ini aku yang mengucapkan selamat pada abah “abah selamat jalan, semoga engkau berada disis-NYA sampaikan pada-NYA bahwa aku mencintai abah karena-NYA”
***
           
Ya baru ku tahu abah terkenang jantungan saat bekerja di sawah. Abah memang sering mengeluh sakit tetapi tidak pernah mengeluh dihadapanku, aku hanya diam-diam menatap abah. Ketika ku tanyakan , abah selalu bilang “abah baik-baik saja” sembari memberi  senyum hangatnya padaku.
Seminggu kepergian abah semuanya berubah, aku mulai tidak mau kesekolah lagi, aku tidak mau keluar kamar. Aku mengurung diriku dikamar. aku tidak mau makan. Umi berusaha membujukku dan mengingatkanku.
“fa, ayo makan nak, kamu dari kemarin gak makan-makan nanti kamu sakit” kata umi dengan menahan tangis.
Aku hanya diam dalam tatapan kosong.
“syafa, jangan terus seperti ini, abah bakalan sedih jika melihatmu begini”umi menangis
Kutatap umi dengan mataku yang sudah sembab.
            “umi,jangan nangis” suara serakku.
            “bagaimana umi tidak menangis dengan keadaan anak umi seperti ini ,” tangis umi belum pernah kudengar seperti ini sebelumnya, hatiku yang mulanya tak peduli dan hanya memikirkan dan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku ingin menyusul abahku saja namun sekarang hatiku benar-benar terhenyuk dan aku mulai merasa bersalah karena membuat umi menangis karena tingkahku.
            “umi juga tidak mau makan kalau kamu tidak mau makan juga,” tegas umi padaku.
            “umi, jangan begitu, umi harus makan” suara serakku dengan wajah memelas
            “kenapa umi tidak boleh begitu, umi sudah cukup sedih dengan kepergian separuh hatimu umi, dan umi juga tidak tega melihat buah hatiku begini. Umi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga amanah abah untuk menjagamu dan membuatmu bahagia” umi menangis tersedu-sedu “umi ingin menghukum diri umi karena belum bisa memenuhi amanah abahmu”
            “dengan tidak makan?” tanyaku “umi jangan menghukum diri umi”
            “kalau syafa tidak mau umi menghukum diri umi, berhentilah begini, atau tidak….” Kata-kata umi terhenti menahan tangis, “umi akan tetap menghukum diri umi” umi langsung berdiri dengan tangisnya dan meninggalkan aku yang lemah ini
            Airmataku terus mangalir “umi jangan hukum diri umi, syafa gak mau umi sakit” dan aku pun tak sadarkan diri.
***

            Aku terbangun dan aku sudah berada di sebuah ruangan. Aku lihat langit-langit ruangan itu.
            “sepertinya ini bukan kamarku,” aku sadar bahwa aku tidak sedang berada dikamarku
            “eh sudah bangun,ya syafa” sapa seorang wanita berjilbab dengan pakaian serab putih sambil membawa peralatan medis yang ditemani dengan dua orang yang juga serba putih. Dan aku menyadari ternyata aku sedang ada dirumah sakit
            “dokter, dimana umi” terasa berat begiku untuk berbicara karena lemahnya tubuhku ini, namun karena rindunya aku pada umi serasa sudah lama tak bersua membuat aku berusaha sekuat tenaga untuk bertanya
            “sebentar lagi kesini, dokter periksa dulu ya” dokter berusaha menghibur diriku dengan senyumnya.
            Sesaat setelah dokter memeriksa ku. Umi datang bersama dengan teteh andin adik abah.
            “bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?” Tanya umi sembari membelai pipiku.
Ya Allah terasa begitu lembut dan hangat tangan umi.
            Aku tidak menjawab pertanyaan umi. Aku ingin mengatakan hal yang lain.
            “umi, syafa minta maaf atas sikap syafa, syafa janji akan kembali bersekolah, dan syafa gak akan kecewakan abah dan umi”
            “Alhamdulillah, umi senang mendengarnya” senyum manis terpancar dari umi serta teteh andin dan sahabatku nia
            “syafa harus kembali bangkit, pasti abah syafa senang dan tenang disana karena syafa sudah mau move on” teteh andin menghiburku
            “iya syafa harus ceria lagi, nia sudah kengen belajar bareng syafa lagi” hibur nia
            “nuhun teteh andin, nia,”
            “MOVE ON”  ya syafa harus move on, kata-kata semangat dari teteh membagkitkan aku yang sudah terpuruk oleh keegoisan diriku sendiri. Terlalu larut dalam kesedihan tanpa berpikir bahwa orang-orang disekitar mengingankan kau yang ceria dan terus berusaha dan mewujudkan impian yang pernah abah sampaikan padaku ““ syafa adalah anak satu-satunya abah dan umi, jadilah kebanggaan abah dan juga umi” yah, aku harus jadi kebanggan abah dan umi.
***
           
            Malam ini disepertiga malam terakhir ,aku rebahkan diriku, kuserahkan hati dan jiwaku yang mudah lemah dan rapuh ini pada Rabb yang Maha pemilik hati. Kutengadahkan tanganku dengan penuh pengharapan doa serta penuh airmata penyesalan
            “Ya Allah ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dan sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu kecil. Ya Allah letakkan Abah disisiMU, lindungi ia dari azab kubur dan tenangkanlah ia Ya Allah karena selama ini hamba sudah membuatnya tidak tenang karena terlalu larut dalam kesediha hamba , Ya Allah kuatkan lah hamba juga umi dalam menjalani kehidupan kami, Ya Allah kabulkanlah, Aamiin”
THE END
Semoga tulisan ini bermanfaat buat sobat-sobat semua ^_^. Sile kasih komentar dan sampaikan ibrah (hikmah) yang bisa sobat ambil dalam cerita sederhana ini.
Jazakumullah khairan katsir J
           

               
               

Minggu, 03 Maret 2013

10 Muwashofat


10 Muwashofat (10 Ciri Pribadi Muslim)

Mungkin anda termasuk yang sering mendengar 10 pribadi dalam seorang mulsim atau sering di sebut dengan 10 muwashofat dan kalau belum tau apa itu 10 pribadi seorang muslim, Check This Out.!
1. Salimul Aqidah (aqidahnya bersih)
Akidah adalah asas dari amal. Amal-amal yang baik dan diridhai Allah lahir dari aqidah yang bersih. Dari sini akan lahir pribadi-pribadi yang memiliki jiwa merdeka, keberanian yang tinggi, dan ketenangan. Sebab, tak ada ikatan dunia yang mampu membelenggunya, kecuali ikatan kepada Allah swt. Seorang kader dakwah yang baik akan selalu menjaga kemurnian aqidahnya dengan memperhatikan amalan-amalan yang bisa mencederai keimanan dan mendatangkan kemusyrikan. Sebaliknya, selalu berusaha melakukan amalan-amalan yang senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
Aplikasi: Senantiasa bertaqorrub (menjalin hubungan) dengan Allah, ikhlas dalam setiap amal, mengingat hari akhir dan bersiap diri menghadapinya, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, dzikrullah di setiap waktu dan keadaan, menjauhi praktik yang membawa pada kemusyrikan.
2. Shahihul Ibadah (ibadahnya benar)
Ibadah, wajib dan sunnah, merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Allah swt. Kedekatan seorang hamba ditentukan oleh intensitas ibadahnya. Ibadah menjadi salah satu pintu masuk kemenangan dakwah. Sebab, ibadah yang dilakukan dengan ihsan akan mendatangkan kecintaan Allah swt. Dan kecintaan Allah akan mendatangkan pertolongan.
Aplikasi: Menjaga kesucian jiwa, berada dalam keadaan berwudhu di setiap keadaan, khusyu dalam shalat, menjaga waktu-waktu shalat, biasakan shalat berjamaah di masjid, laksanakan shalat sunnah, tilawah al-Qur’an dengan bacaan yang baik, puasa Ramadhan, laksanakan haji jika ada kesempatan.
3. Matinul Khuluq (akhlaqnya tegar)
Seorang kader dakwah harus ber-iltizam dengan akhlaq islam. Sekaligus memberikan gambaran yang benar dan menjadi qudwah (teladan) dalam berperilaku. Kesalahan khuliqiyah pada seorang kader dakwah akan berdampak terhadap keberhasilan dakwah.
Aplikasi: Tidak takabur, tidak dusta, tidak mencibir dengan isyarat apapun, tidak menghina dan meremehkan orang lain, memenuhi janji menghindari hal yang sia-sia, pemberani, memuliakan tetangga. Bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjenguk orang sakit, sedkit bercanda, tawadhu tanpa merendahkan diri.
4. Qadirul’alal Kasb (kemampuan berpenghasilan)
Kita mengenal prinsip dakwah yang berbunyi ”shunduquna juyubuna (sumber keuangan kita dari kantong kita sendiri)”. Yang berarti setiap kader harus menyadari bahwa dakwah membutuhkan pengorbanan harta. Oleh karena itu setiap kader dakwah harus senantiasa bekerja dan berpenghasilan dengan cara yang halal. Tidak menjadikan dakwah sebagai sumber kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi sumber penghasilan haram, menjauhi riba, membayar riba, membayar zakat, menabung meski sedikit, tidak menunda hak dalam melaksanakan hak orang lain, bekerja dan berpenghasilan, tidak berambisi menjadi pegawai negeri. Mengutamakan produk umat Islam, tidak membelanjakan harta kepada non-muslim.
5. Mutsaqaful Fiqr (pikirannya intelek)
Intelektualitas seorang kader dakwah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah. Sejarah para nabi juga memperlihatkan hal itu. Kita melihat bagaimana ketinggian intelektualitas Nabi Ibrahim, dengan bimbingan wahyu, mampu mematahkan argumentasi Namrud. Begitu pula kecerdasan Rasul dalam mengemban amanah dakwahnya, sehingga ia digelari fathonah (orang yang cerdas).
Aplikasi: Baik dalam membaca dan menulis. Upayakan mampu berbahasa Arab, menguasai hal-hal tertentu dalam masalah fiqih seperti shalat, thaharah dan puasa, memahami syumuliatul Islam, memahami ghazwul fikri, mengetahui problematika kaum nasional dan internasional, menghafal al-Qur’an dan hadits, memiliki perpustakaan pribadi sekecil apapun.
6. Qawiyul Jism (fisiknya kuat)
Beban dakwah yang diemban para kader dakwah sangat berat. Kekuatan ruhiyah dan fikriyah saja tidak cukup untuk mengemban amanah itu. Harus ditopang oleh kekuatan fisik yang prima. Sejumlah keterangan al-Qur’an dan Hadits menjelaskan betapa pentingnya aspek ini.
Aplikasi: Bersih pakaian, badan dan tempat tinggal, menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah, berolahraga, bangun sebelum fajar, tidak merokok, selektif dalam memilih produk makanan, hindari makanan/minuman yang menimbulkan ketagihan, puasa sunnah, memeriksakan kesehatan.
7. Mujahidu Linafsihi (bersungguh-sungguh)
Bersungguh-sungguh adalah salah satu ciri orang mukmin. Tak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa kesungguhan. Kesadaran bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat, dan kehidupan abadi adalah kehidupan akhirat, akan melahirkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi segala yang haram, menjauhi tempet-tempat maksiat, memerangi dorongan nafsu, selalu menyertakan niat jihad, hindari mengkonsumsi yang mubah, menyumbangkan harta untuk amal islami, menyesuaikan perkataan dengan perbuatan, memenuhi janji, sabar, berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
8. Munazham fi syu’unihi (teratur dalam semua urusannya)
Seorang kader dakwah harus mampu membangun keteraturan dalam kehidupan pribadi dan keluarganya agar bisa menghadapi persoalan umat yang rumit dan kompleks.
Apalikasi: Memperbaiki penampilan, jadikan shalat sebagai penata waktu, teratur di dalam rumah dan tempat kerjanya, disiplin dalam bekerja, memprogram semua urusan, berpikir secara ilmiah untuk memecahkan persoalan, tepat waktu dan teratur.
9. Haritsun ’ala waqtihi (efisien menjaga waktu)
Untuk menggambarkan betapa pentingnya waktu, ada pepatah mengatakan ”waktu ibarat pedang”. Bila tak mampu dimanfaatkan maka pedang waktu akan menebas leher kita sendiri. Seorang kader harus mampu seefektif mungkin memanfaatkan waktu yang terus bergerak. Tak boleh ada yang terbuang percuma.
Aplikasi: Bangun pagi, menghabiskan waktu untuk belajar, mempersingkat semua urusan (tidak bertele-tele). Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, tidak tidur setelah fajar.
10. Nafi’un Lighairihi (berguna bagi orang lain)
Rasul menggambarkan kehidupan seorang mukmin itu seperti lebah yang akan memberi manfaat pada lingkungan sekitarnya. Kader dakwah memberi manfaat karena setiap ucapan dan gerakannya akan menjadi teladan bagi sekitarnya.
Aplikasi: Melaksanakan hak orang tua, ikut berpartisipasi dalam kegembiraan, membantu yang membutuhkan, menikah dengan pasangan yang sesuai, komitmen dengan adab Islam di dalam rumah, melaksanakan hak-hak pasangannya (suami-istri), melaksanakan hak-hak anak, memberi hadiah pada tetangga, mendo’akan yang bersin.